Proyek GOLD-ISMIA, KLHK : Upaya Penghapusan Penggunaan Merkuri di Sektor Pertambangan Emas Skala Kecil di Minahasa Utara

Minahasa Utara341 Dilihat
Koperasi Produsen Tatelu Matuari Mandiri, Koperasi Binaan Proyek GOLD-Ismia Atau Yang dikenal Secara Global planet GOLD Indonesia

 

Minut – Kegiatan Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) di Indonesia diminta untuk tidak lagi menggunakan merkuri dalam pengolahan emas. Sebagai alternatif, para penambang dapat menggunakan Sianida sebagai zat bantu untuk mengolah emas.

Hal ini dikatakan perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia saat Media Visit Lokasi Proyek Gold-Isma di Lokasi Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) di Kabupaten Minahasa Utara, yang diselenggarakan di Novotel Hotel Manado, pada Kamis dan Jumat, 15 dan 15 Desember 2022.

Media Visit Lokasi Proyek GOLD-Ismia atau yang dikenal secara global sebagai planet GOLD Indonesiq dilaksanakan di Lokasi Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) yang ada di Kabupaten Minahasa Utara, yaitu Koperasi Binaan Proyek Gold-Ismia yang ada di Tatelu, Koperasi Produsen Tatelu Matuari Mandiri dan Koperasi Serba Usaha Batu Api Talawaan.

“Merkuri ditetapkan sebagai salah satu bahan berbahaya dan beracun (B3) sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2001 sebagai B3 yang dibatasi penggunaannya. GOLD-ISMIA bersama Badan Standardisasi Nasional juga telah menetapkan teknologi pengolahan emas tanpa merkuri dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) Pengolahan Emas Tanpa Merkuri.

Baca juga:  PSPD Nelayan di Likupang Dua Menjual BBM Bersubsidi Tanpa Meminta Surat Rekomendasi Yang Berlaku

Proyek Global Opportunities for Long-term Development-Integrated Sound Management of Mercury in Indonesia’s ASGM (GOLD-ISMIA) adalah suatu proyek bersama kerjasama antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dengan United Nations Development Programs (UNDP).

Proyek GOLD-ISMIA ini bertujuan mengurangi dan menghilangkan penggunaan merkuri di Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) dengan cara memberikan bantuan teknis, transfer teknologi, pembentukan kemitraan antara swasta-publik dan akses pendanaan untuk pembelian peralatan pengolahan emas tanpa merkuri.

Tujuan tersebut akan dicapai melalui empat komponen keluaran yaitu penguatan kelembagaan dan kerangka kebijakan/peraturan untuk PESK tanpa merkuri, pembentukan sistem pembiayaan untuk penyediaan pinjaman dalam rangka pembelian peralatan pengolahan emas tanpa merkuri, peningkatan kapasitas teknis PESK melalui bantuan teknis, transfer teknologi dan dukungan terhadap formalisasi serta pengawasan dan evaluasi, penyadartahuan serta menemukan dan menyebarluaskan pengalaman, proses pembelajaran dan praktik-praktik yang terbaik di lapangan.

Secara garis besar, proyek GOLD-ISMIA ini akan mengupayakan teknologi pengganti untuk pemurnian emas yang lebih aman selain merkuri. Proyek ini tidak hanya berorientasi pada proses penambangan tanpa merkuri, namun juga formalisasi dan kesejahteraan bagi para penambang, dan tidak lupa juga melibatkan kesetaraan gender”, jelas perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia.

Baca juga:  PSPD Nelayan di Likupang Dua Menjual BBM Bersubsidi Tanpa Meminta Surat Rekomendasi Yang Berlaku

Media Visit Lokasi Proyek Gold-Isma dilaksanakan di Lokasi Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) yang ada di Kabupaten Minahasa Utara, yaitu Koperasi Binaan Proyek Gold-Ismia yang ada di Tatelu, Koperasi Produsen Tatelu Matuari Mandiri dan Koperasi Serba Usaha Batu Api Talawaan.

Deicy Corry Lausan, Ketua Kelompok Koperasi Binaan Proyek Gold-Ismia, Tatelu Matuari Mandiri mengatakan, “Mengapresiasi Pemerintah yang sudah mengupayakan formalisasi dan legalisasi kami penambang dalam bentuk koperasi, juga kesejahteraan kami penambang dan kesetaraan gender serta pendampingan untuk mendukung pencapaian zero mercury.

Sebagai Koperasi Binaan Proyek Gold-Ismia, sekarang kami penambang tidak lagi menggunakan merkuri dalam pengolahan emas dan sebagai alternatif kami menggunakan sianida sebagai zat bantu untuk mengolah emas.
Dengan formalisasi dan legalisasi juga dengan program GOLD-ISMIA ini, kesejahteraan kami dan perekonomian kami penambang semakin meningkat”, ungkap Deicy Corry Lausan, Ketua Kelompok Koperasi Binaan Proyek Gold-Ismia, Tatelu Matuari Mandiri.

(enol)

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Speed News Manado di saluran WHATSAPP