
Minut – Majukan Desa Wisata, Pemerintah Desa Tumaluntung gandeng Tim Pengabdi dari Politeknik Negeri Manado yang terdiri dari Prof. Dr. Bet El Lagarense, M.M., Tour dan Mex U. Pesik, S.E., M.M. melaksanakan Pelatihan Kepemanduan bertajuk Desain Tapak Wisata kepada masyarakat di Desa Tumaluntung, Kecamatan kauditan, Kabupaten Minahasa Utara, pada Rabu, 25 Mei 2022.
Selain sebagai salah satu upaya Perguruan Negeri Manado dalam memberikan sumbangsih yang nyata bagi masyarakat sesuai kebutuhan dan tantangannya, kegiatan yang melibatkan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Eduden Um Banua, Karang Taruna, BUMDes, masyarakat pelaku pariwisata di Desa Tumaluntung dan Asosiasi Desa Wisata (Asidewi) Sulawesi Utara, ini juga merupakan bentuk implementasi dari salah satu poin Tridharma Perguruan Tinggi yakni pengabdian kepada masyarakat.
Dalam sambutannya, Kepala Desa Tumaluntung Richard S. Kamagi, S.H. menyampaikan apresiasinya kepada Tim Pengabdi dari Politeknik Negeri Manado yang telah memilih Desa Tumaluntung sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan pengabdian pada masyarakat.
“Memberikan apresiasi kepada Tim Pengabdi dari Politeknik Negeri Manado yang telah memilih Desa Tumaluntung sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan pengabdian pada masyarakat.
Berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat bagi pengembangan pariwisata di Desa Tumaluntung dan meminta peserta yang hadir untuk benar-benar mengikuti setiap sesi pelatihan dengan serius agar nantinya dapat mengaplikasikan pengetahuan yang didapat melalui pelatihan dalam pengembangan pariwisata di Desa Tumaluntung”, ujar Hukum Tua Desa Tumaluntung, Richard S. Kamagi, S.H.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Minahasa Utara Audy Sambul, S.Sos. mengatakan, “Kegiatan pelatihan seperti ini memang sangat dibutuhkan oleh desa-desa wisata di Minahasa Utara. Kegiatan pelatihan seperti ini tentunya dimaksudkan untuk memajukan pariwisata di Desa Tumaluntung. Sungguh suatu kebanggaan bagi dunia pariwisata di Minahasa Utara
Ada di Desa Tulumalung yang mampu bersinergi dengan Pemerintah, Kelembagaan Desa, Akademisi dan Asosiasi serta Stakeholder lainnya untuk kemajuan pengembangan pariwisata”, ujar Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Minahasa Utara Audy Sambul, S.Sos.
Lanjutnya, “Memberikan motivasi kepada Pemerintah Desa Tumaluntung, Pokdarwis, Bumdes, Karang Taruna, BPD dan masyarakat di Desa Tumaluntung untuk terus konsisten dan menjaga komitmen bersama untuk memajukan pariwisata di Desa Tumaluntung.
Pencapaian Desa Wisata Tumaluntung yang sudah berhasil masuk 300 besar dari 3419 Desa wisata dalam ajang bergengsi Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022 setelah sebelumnya ditetapkan masuk 100 besar dari 1800 desa wisata peserta Asosiasi Desa Wisata Indonesia 2021 merupakan tantangan bagi Pemerintah Desa Tumaluntung, Pokdarwis, Bumdes, Karang Taruna, BPD dan masyarakat Desa Tumaluntung.
Berharap Desa Tumaluntung dapat membenahi serta meningkatkan progres pengembangan pariwisatanya agar bisa masuk 50 besar asosiasi desa wisata Indonesia 2023”, ujar Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Minahasa Utara Audy Sambul S.Sos.
Kegiatan yang diikuti dengan sangat antusias oleh peserta ini turut dihadiri oleh Sekretaris Desa Tumaluntung Jonly Mantiri, S.Sos., Ketua BPD Tumaluntung Marthen Rotty dan Ketua Pokdarwis Eduden Um Banua Refly Inaray, S.Th.
Setelah mengikuti pemaparan materi dari Tim Pengabdi peserta pelatihan kemudian diajak mengunjungi 5 lokasi potensial yang sedang dikembangkan dan dikelola secara partisipatif oleh masyarakat yang tergabung dalam wadah Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Eduden Um Banua yang menyusun dan mengelola objek wisata Desa Tumaluntung dan bekerja sama dengan Pemerintah Desa Tumaluntung dan Badan Usaha Milik Desa Tumaluntung.
5 lokasi wisata potensial yang di Desa Tumaluntung tersebut yakni Cagar Budaya Dotu Rotty, Hutan Jati, Biogas, Lokasi Penyulingan Cap Tikus dan Workshop Gula Batu.
Prof. Dr. Bet El Lagarense, M.M., Tour secara khusus mengatakan, “Desain tapak merupakan pembagian ruang pengelolaan pariwisata alam dan budaya di zona pemanfaatan yang diperuntukkan bagi ruang publik dan ruang usaha penyediaan jasa dan sarana pariwisata.
Tapak wisata dimaksudkan untuk memetakan potensi yang terdapat pada masing-masing tapak seperti potensi objek dan daya tarik wisata alam dan budaya, potensi keanekaragaman hayati, kondisi fisik lapangan serta sarana dan prasarana pendukung pariwisata alam yang telah ada berdasarkan hasil pengamatan langsung di lapangan yang kemudian dianalisis guna menentukan mana yang merupakan ruang publik dan mana yang merupakan ruang usaha.
Ruang publik adalah area di mana masyarakat atau pengunjung dapat mengakses ruang untuk tujuan kunjungan wisata, area penerimaan, area pengelolaan serta area untuk penempatan fasilitas umum penunjang pariwisata alam; sementara ruang usaha merupakan area yang diperuntukkan bagi pihak ketiga untuk melakukan usaha fasilitas dan jasa wisata alam melalui izin pihak terkait.
Analisis tapak ini kemudian di deskripsikan secara kualitatif dengan narasi tentang berbagai ootensi alam dan budaya serta daya tariknya yang meliputi objek dan daya tarik flora dan fauna objek dan daya tarik gejala alam objek dan daya tarik atraksi budaya; ketersediaan akomodasi fasilitas dan jenis layanan yang tersedia dan kondisi infrastruktur yang tersedia dan kondisinya
elemen institusi (peranan yang ada saat ini) dan karakteristik persepsi referensi dan partisipasi masyarakat dalam pengembangan pariwisata”, ujar Prof. Dr. Bet El Lagarense, M.M., Tour.
Lebih lanjut dikatakannya, “Hasil analisis tapak wisata tersebut nantinya akan dikembangkan sebagai masukan untuk memperoleh hasil sesuai dengan tujuan pembuatan desain tapak dimana pada tahap ini potensi dan Amenity dikembangkan pemanfaatannya, sedangkan kendala dan masalah dicari pemecahannya. Hasilnya berupa alternatif tindakan pemanfaatan dan pemecahan masalah dengan mempertimbangkan dampak dari berbagai tindak tersebut.
Bentuk pengembangan pariwisata di Desa Tumaluntung sebenarnya sudah terlihat dengan adanya penataan sejumlah potensi wisata oleh pengelola potensi objek dan daya tarik wisata sebagai aset pengembangan pariwisata yang ada di Desa Tumaluntung, sudah terdentifikasi secara menyeluruh meski belum dilengkapi dengan pusat informasi papan petunjuk dan larangan jalur interpretasi dan pengelolaan yang belum maksimal.
Pengembangan pariwisata hendaknya memperhatikan lima karakteristik dasar yaitu Natural Based di mana kegiatan pariwisata ini berbasis pada produk dan pasar yang berdasarkan pada alam Eciligically Suistainable di mana pengembangan ekowisata dilakukan dengan konsep kembali ke alam agar pelaksanaan pengelolaan kawasan wisata dapat dilakukan secara berkelanjutan; Environmentally Educative di mana pembangunan pariwisata diharapkan dapat pula diarahkan untuk dapat memberikan pendidikan mengenai lingkungan bagi pengelola dan pengunjung agar natural awareness dari stakeholder dapat dibangun secara optimal, bermanfaat untuk masyarakat introduksi sebuah konsep pengembangan tapak dalam sebuah rencana landscape selain tujuan bagi kepuasan pengguna tapak pengunjung, selayaknya juga dapat memberikan manfaat kepada masyarakat lokal dan memberikan kepuasan bagi wisatawan.
Satu hal terpenting dari kegiatan perencanaan landscape adalah memberikan kepuasan bagi wisatawan setiap tapak dengan karakteristik alam yang berbeda akan menarik wisata yang berbeda pula minat dan keinginannya dengan mengamati bentuk alam yang ada pengelolaan pariwisata dapat memperkirakan siapa yang akan menjadi pengunjung utama dari aktivitas pengembangan ekowisata ini.
Dalam kesempatan yang sama, Mex U. Pesik, S.E., M.M. mengatakan, “Tujuan utama dari pelatihan ini adalah untuk menyusun desain tapak dalam rangka perencanaan pengembangan pariwisata yang serasi dan harmonis dengan kondisi lingkungan alam di Desa Tumaluntung. Hasil pelatihan diharapkan bisa berguna sebagai bahan masukan bagi Desa Tumaluntung dalam pengembangan pariwisata dengan berpedoman pada fungsi ruang atau desain tapak.
Pengembangan pariwisata yang efektif akan memaksimalkan dampak positif dan meminimalkan dampak negatif bagi pengelola wisata di Desa Tumaluntung dan bagi masyarakat.
Perencanaan pengembangan pariwisata dimaksudkan untuk menyediakan kemampuan untuk belajar mendapatkan pengalaman dan menghargai alam dan warisan budaya dari kawasan belajar pengalaman dan menghargai warisan alam dan warisan budaya dari destinasi, memastikan bahwa warisan budaya dan warisan alam itu dikelola secara tepat dan efektif dalam waktu yang panjang, meminimalkan dampak negatif pengelolaan pariwisata baik dampak sosial budaya maupun ekologi,
memaksimalkan dampak positif pengelolaan pariwisata baik dampak sosial budaya ekonomi maupun ekologi.
Pariwisata alam dan budaya di Desa Tumaluntung adalah bagian dari kegiatan pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistem serta budaya yang ada. Pengembangan pariwisata alam di arahkan pada tercapainya pelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dan mendukung upaya peningkatan kesejahteraan dan butuh kehidupan masyarakat.
Terpisah, Ketua Pokdarwis Eduden Um Banua Refly Inaray, S.Th. mengatakan, “Kegiatan pelatihan seperti ini sangat diperlukan oleh Pokdarwis sebagai pengembang dan pengelola kegiatan pariwisata di Desa Tumaluntung karena Pokdarwis merupakan salah satu unit usaha Bumdes di Desa wisata maka kegiatan pembekalan seperti ini sangat diperlukan untuk menambah wawasan kami di bidang kepemanduan, ini yang dimaksud agar nantinya akan mampu mengimplementasikan pengetahuan yang didapat dalam kegiatan kepariwisataan di Desa Tumaluntung. Berharap Pemerintah melalui Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Utara maupun Dinas Pariwisata Kabupaten Sulawesi Utara dapat terus memberikan pelatihan-pelatihan di bidang kepariwisataan di Desa Tumaluntung agar SDM yang ada lebih siap untuk menyambut kunjungan wisatawan lokal maupun asing”, ujar Ketua Pokdarwis Eduden Um Banua Refly Inaray, S.Th.
(*red)



